1. 16-Port Desktop Switch Hub D-Link DES-1016D
2. Switch Hub 48 Port TP-Link TL-SF1048
3. Switch Hub 8 Port Desktop PoE Switch TP-Link TL-SF1008P
4. Switch Hub 8 Port Gigabit Rackmount TP-Link YL-SG1008
5. Switch Hub 16 Port Gigabit Rackmount TP-Link TL-SG1016
Student of Gunadarma University (kalimalang) | System Information | Class : 4KA39 | NPM : 10112185
Jumat, 27 Maret 2015
Selasa, 17 Maret 2015
Contoh Kasus Berfikir Induktif
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk
dari metode berpikir induktif.
Contoh:
Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan,
tembaga memuai.
Jika dipanaskan,
emas memuai.
Jika dipanaskan,
platina memuai.
Penalaran
deduktif dibidani oleh filosof Yunani Aristoteles merupakan penalaran yang
beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan
yang bersifat khusus. Sang Bagawan Aristoteles (Van Dalen:6) menyatakan bahwa
penalaran deduktif adalah, ”A discourse in wich certain things being posited,
something else than what is posited necessarily follows from them”. pola
penalaran ini dikenal dengan pola silogisme. Pada penalaran deduktif menerapkan
hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam
bagian-bagiannya yang khusus.
Corak
berpikir deduktif adalah silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme
alternatif. Dalam penalaran ini tedapat premis, yaitu proposisi tempat menarik
kesimpulan. Untuk penarikan kesimpulannya dapat dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Penarikan kesimpulan secara langsung diambil dari satu
premis,sedangkan untuk penarikan kesimpulan tidak langsung dari dua premis.
Penalaran, Berfikir Induktif, Berfikir Deduktif
BAB 1
PENDAHULUAN
E.
Latar
Belakang
Pencarian pengetahuan yang benar
harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah okum, yaitu berdasarkan logika.
Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan
yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan
ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan
Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada
suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan
berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih
khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi
operasional, okumcnt dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami
suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala
tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian
konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci
untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang
berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan okumc dan berakhir
pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini
penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Dengan
demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat
digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu
wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada okum-hukum
logika
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Penalaran
Deduktif?
2. Apakah yang dimaksud dengan Penalaran
Induktif ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui definisi Penalaran Deduktif
dan Penalaran Induktif.
2. Memahami arti Penalaran Deduktif dan
Penalaran Induktif.
3. Mampu
menjelaskan Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
D.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini, sangat
sederhana. Penulis mengumpulkan informasi dari beberapa buku, media internet
dalam mengumpilkan data.
E.
Sistematika
Makalah ini dibagi menajdi dua poin pembahasan. Yang pertama, mengenai
apa yang dimaksud dengan Penalaran Deduktif. Yang kedua, mengenai apa yang
dimaksud dengan penalaaran Induktif.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Penalaran
Penalaran
adalah sebagian bagaimana cara kita berfikir. Proses berfikir untuk
menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan.
Sehingga penalaran cara penrikan kesimpulan ini sangat berhubungan dengan
logika. Secara umum, logika dapat didefinisikan sebagai sarana untuk berfikir
secara benar atau sahih. Yang mana didalam logika itu, menyatakan, menjelaskan,
dan mempergunakan prinsip- prinsip abstrak dalam merumuskan kesimpulan.
Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga, maka akan terbentuk proposisi – proposisi yang
sejenis. Berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar,
orang akan menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar
penyimpulan disebut Premis dan hasil
kesimpulannya disebut konklusi. Berdasarkan
jenisnya, proposisi dapat dibedakan menjadi dua jenis.Yakni proposisi empirik dan proposisi mutlak. Proposisi empirik adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara
empirik. Sedangkan Proposisi mutlak
adalah proposisi yang jelas dengan sendirinya sehingga tidak perlu dibuktikan
secara empiris.
Adapun
dalam proses bernalar, terdapat dua jenis metode yang dapat digunakan, yaitu
bernalar secara deduktif dan induktif.
B.
Bernalar
secara Deduktif
Bernalar
secara Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik suatu kesimpulan dari
suatu prinsip atau sikap yang berlaku umum untuk kemudian ditarik kesimpulan
yang khusus. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai
dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih
rendah. Contoh: Al- musaddadiyah adalah sebuah yayasan yang menyediakan
berbagai jenjang pendidikan, seperti SD, SMP, MTS, SMA, MA, SMK, Perguruan
Tinggi dan Pesantren.
1. Menarik
Simpulan secara Langsung
Simpulan
(konklusi) secara langsung atau entimen,
adalah suatu proses penarikan kesimpulan yang ditarik dari satu premis.
Misalnya
:
1) Semua
S adalah P. (premis)
SebagianP adalah S. (sumpulan)
Contoh :
Semua ikan berdarah dingin. (Premis)
Sebagian yang
berdarah dingin adalah ikan. (Simpulan)
2) Tidak
satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh :
Tidak seekor
nyamuk pun adalah lalat.
(premis)
Tidak seekor
lalat pun adalah nyamuk.
(simpulan)
3) Semua S
adalah P.(premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P.(simpulan)
Contoh :
Semua rudal
adalah senjata berbahaya.
(premis)
Tidak satu
pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
2.
Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Penarikan
simpulan secara tidak langsung atau silogisme,
adalah suatu proses penarikan kesimpulan yang memerlukan dua data sebagai data
utamanya. Dari dua data ini, akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang
pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis
yang bersifat khusus.
Untuk
menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan
dasar) yang bersifat umum (PU) dan premis yang kedua bersifat khusus (PK).
Sebagai umpama:
PU : Setiap manusia akan mati
PK : Pak ujang adalah manusia
K :
Pak ujang akan mati
Hal- hal penting yang harus diperhatikan dalam
penyusunan suatu silogisme adalah sebagai berikut:
1. Silogisme terdiri
dari tiga pernyataan.
2. Pernyataan
(premis) pertama disebut premis umum.
3. Pernyataan
(premis) kedua disebut premis khusus
4. Pernyataan ketiga
disebut kesimpulan.
5. Apabila salah satu
premisnya negatif, maka kesimpuulannya pasti negatif.
6. Dua premis negatif
tidak dapat menghasilkan kesimpulan.
7. Dari dua premis
khusus tidak dapat ditarik kesimpulan.
Pola penarikan kesimpulan tidak langsung atau
silogisme, dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis:
a.
Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme
kategorial adalah, silogisme yang terjadi dari tiga proposisi (pernyataan). Dua
proposisi merupakan premis dan satu proposisi, merupakan simpulan. Premis yang
bersifat umum, disebut premis mayor. Dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor.
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term
minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
PU : Semua manusia bijaksana.
PK : Semua polisi adalah bijaksana.
K : Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus
ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term
penengah adalah silogisme diatas ialah manusia. Term penengah hanya
terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak
ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh :
PU : Semua manusia tidak bijaksana.
PK : Semua kera bukan manusia.
K :
Jadi, (tidak ada kesimpulan).
Aturan umum mengenai silogisme
kategorial adalah sebsgai berikut:
a)
Silogisme harus terdiri atas tiga term. Yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
Contoh:
PU : Semua atlet harus giat berlatih.
PK : Xantipe adalah seorang atlet.
K : Xantipe harus giat berlatih.
Term mayor = Xantipe.
Term minor = harus giat berlatih.
Term penengah = atlet.
Kalau lebih dari tiga term, simpulan
akan menjadi salah.
Contoh: Gambar itu menempel di dinding.
Dinding
itu menempel di tiang.
Dalam premis ini terdapat empat term, yaitu gambar yang
menempel di dinding dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak
dapat ditarik kesimpulan.
b)
Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan
simpulan.
c) Dua
premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua
semut bukan ulat.
Tidak
seekor ulat pun adalah manusia.
d)
Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
PU :Tidak seekor gajah pun adalah singa.
PK : Semua gajah berbelalai.
K : Jadi, tidak seekor singa pun
berbelalai.
e)
Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
PU ;
Semua mahasiswa adalah lulusan SMA
PK :
Ujang adalah mahasiswa
K :
Ujang adalah lulusan SMA
f)
Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
PU :
Sebagian orang jujur adalah petani.
PK : Sebagian pegawai negeri adalah orang
jujur.
K :
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
g)
Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
PU :
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
PK : Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
K : Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan
SLTA.
h)
Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik
satu simpulan.
Contoh:
PU :
Beberapa manusia adalah bijaksana.
PK :
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
K : Jadi, . . .
(tidak ada simpulan)
b.
Silogisme Hipotesis
Silogisme
hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas pernyataan umum, pernyataan
khusus, dan kesimpulan. Akan tetapi, premis umumnya bersifat pengandaian. Hal
ini ditandai adanya penggunaan konjungsi
jika dalam pernyataannya. Dengan demikian, pernyataan umumnya dibentuk oleh
dua bagian. Bagian pertama disebut anteseden
dan bagian keduanya disebut konsekuensi.
Sementara itu, pernyataan khususnya menyatakan kenyataan yang terjadi, yang
kemungkinannya hanya dua: sesuai atau tidak sesuai dengan yang diandaikannya
itu.
Contoh
:
PU : jika saya lulus ujian, maka saya akan
melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.
c. Silogisme
Alternatif
Silogisme
ini menggunakan pernyataan umum yang memiliki dua alternatif. Jika alternative
satu itu benar menurut pernyaataan khususnya, alternatif yang lain itu salah.
Contoh:
PU ; Lampu temple ini akan mati apabila minyaknya
habis atau sumbunya
pendek.
PK ;
Lampu ini mati, tetapi minyaknya tidak habis.
K : Lampu ini mati karena sumbunya pendek.
d. Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk
silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah
diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
PU ; Semua sarjana adalah orang cerdas.
PK ; Ali adalah seorang sarjana.
K : Jadi,
Ali adalah orang cerdas.
Dari
silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas
karena dia adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena
dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat
dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi
silogisme.
C.
Bernalar Secara Induktif
Penalaran induktif dilakukan
terhadap fakta-fakta khususuntuk kemudian dirumuskan sebuah kesimpulan. Kesimpulan
ini mencakup semua fakta yang khusus.
Contoh :
Sejak suaminya meninggal dunia dua
tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering
sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksakan sakitnya. Harta
peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan,
serta untuk biya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih
sekolah. Anaknya yang tertua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan
tinggi swasta, sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh
(kata kunci) berat beban hidupnya. (Ide pokok)
Seperti
halnya penalaran duduktif, cara bernalar induktif juga terbagi kedalam beberapa
macam. Yakni:
1.
Generalisasi
Generalisasi ialah proses
penalaranyang megandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu
untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan data,
kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.” Hal ini
dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan
gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan semua logam
akan memuai.
Benar atau tidak
benarnya rumusan kesimpulan secara generalisasi, itu dapat dilihat dari hal-hal
berikut.:
1) Data itu harus memadai
jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan, semakin benar simpulan yang
diperoleh.
2) Data itu harus mewakili
keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang benar.
3) Pengecualian perlu diperhitungkan
karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
Contoh generalisasi yang tidak sahih;
a) Orang garut suka rujak
b) Makan daging dapat
menyebabkan penyakit darah tinggi.
c) Orang malas akan kehilangan
banyak rejeki.
2.
Analogi
Analogi adalah cara bernalar dengan
membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:Nina adalah
lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya
dengan baik.
Tujuan
penalaran secara analogi adalah sebagai berikut.
1) Analogi dilakukan untuk
meramalkan sesuatu.
2) Analogi dilakukan untuk
menyingkap suatu kekeliruan.
3) Analogi digunakan untuk
menyusun klasifikasi.
3.
Hubungan
Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran
yang diperoleh dari gejala-gejala yang memiliki pola hubungan sebab akibat.
Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita
sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan
jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker darah dan meninggal dunia. Dalam
kaitannya dengan hubungan kausal ini, terdapat tiga pola hubungan kausalitas.
Yaitu sebagai berikut:
a.
Sebab-Akibat
Sebab-akibat ini
berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A
menyebabkan B, C, D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang
dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.
Dalam kaitannya
dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan penalaran seseorang untuk
mendapatkan simpulan penalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang
tidak jelas terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebiji buah
mangga terjatuh dari batangnya, kita akan memperkirakan beberapa kemungkinan penyebabnya.
Mungkin mangga itu ditimpa hujan, mungkin dihempas angin, dan mungkin pula
dilempari anak-anak. Pastilah salah satu kemungkinana itu yang menjadi
penyebabnya.
b.
Akibat-Sebab
Dalam pola
ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu kemudian
kita analisis untuk dicari penyebabnya.
Contoh ;Kemarin pak
maman tidak masuk kantor. Hari inipun tidak. Pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli obat. Oleh
karena itu, pasti Pak Maman sedang sakit.
c. Sebab
Akibat -1 Akibat -2
Suatu
penyebab dapat menyebabkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi
sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianaalah seterusnya, hingga timbul
arangkaian beberapa akibat.
Contoh:
Mulai bualan mei 2012, harga beberapa jenis BBM direncanakan
akan mengalami kenaikan. Terutama premium dan solar. Hal ini karena pemerintah
ingin mengurangi subsidi dengan harapan supaya ekonomi Indonesia kembali
berlangsung normal. Dikarenakan harga bahan bakar naik, sudah barang tentu
biaya angkutan pun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang pasti
ikutn naik. Naiknya harga barang akan dirasakan berat oleh masyarakat. Oleh
karena itu, kenaikan harga barang harus diimbangi dengan usaha menaikan
pendapatan rakyat.
Langganan:
Komentar (Atom)









