Jumat, 17 April 2015

Cerpen : Luka LDR

Suara gedoran pintu mulai membangunkan gadis cantik itu, terdengar dari luar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya, yang sedang memanggil namanya disertai dengan suara ketukan pintu yang cukup keras dan membuatnya terbangun, dengan keadaan masih setengah mengantuk dan dengan langkah tergonta-gantai Ia mulai berjalan menuju pintu kamar dan membukanya
“Selamat pagi putri manja” sapa si cowok
“Apaan sih Zhal, pagi-pagi gini udah dateng ke rumah orang terus ngeganggu istirahat orang, itu tindakan kriminal tau, lagipula kan ini hari minggu Tuan Izhal setiawan”
“Putri manja Raisha Mahardika, liat dong ini udah jam berapa, udah jam delapan tuh, lagian kan tadi malem lo udah janji sama gue, bakalan nemenin gue jalan-jalan, gue Bt di rumah terus Sha”
“Emang aku pernah janji sama kamu?”
“Nih anak nyebelin banget sih, mandi gih trus siap-siap kita jalan, Ok?”
“Ih siapa sih kamu, nyuruh-nyuruh aku mandi Mamah Papah aja gak segitunya sama aku, kok malah kamu sih yang ngebawelin aku?”
“jadi kamu udah gak nganggep aku sahabat nih? Ya udah sekarang persahabatan kita yang udah kita jalin selama 16 tahun gak usah diinget-inget lagi, aku pulang” Raisha hanya tampak terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu dan kemudian mencegahnya agar tidak pulang
“Izhal!, yah kok ngambek sih? Aku kan Cuma bercanda”
“iih dasar jail kamu yah, udah sana mandi”
“Iya iya, bawel banget sih”
“aku tunggu di depan yah”
“iya”

Seusai mandi Raisha pun menemui Izhal, dengan berdandan seadanya saja namun itu sudah membuat lelaki manapun terpukau dengan penampilannya karena memang Raisha adalah cewek yang tergolong cantik dan imut. Kemudian mereka pun menuju ke sebuah tempat wisata yang sudah lama tak mereka kunjungi.

Di tengah keheningan mereka duduk di sebuah taman tempat wisata tersebut sambil melihat-lihat sekeliling mereka menyaksikan pemandangan yang sudah sangat jauh berbeda dari 13 tahun yang lalu tepatnya saat umur mereka berdua masih tiga tahun dan sekarang umur mereka sudah sama-sama 16 tahun. Dan 13 tahun yang lalu pula mereka masih bocah kecil yang tak tau apa-apa dan kini mereka berdua telah duduk dibangku sekolah menengah pertama kelas dua.

“Tempat ini udah jauh berbeda yah Zhal, beda dengan 13 tahun yang lalu” Suara Raisa membuka pembicaraan dan memecah keheningan di antara mereka berdua
“Iya gak kerasa yah kita kenal udah 13 tahun yang lalu, gue jadi inget awal kita ketemu di deket pohon itu, dulunya masih kecil sekarang udah segede itu”
“Iya yah, eh Zhal inget gak sih awal kita ketemu kita tuh suka brantem gara-garanya aku tuh bawel, cerewet dan super protektif”
“yah ingetlah, yang paling gue inget tuh kalo lo lagi bilang gini nih “ih Izhal kata mamah gak boleh gini, Izhal kata mamah gak boleh gitu, Izhal nanti aku aduin sama tante klara loh” hahah kalo diinget-inget lucu juga ya”
“Iya sih tapi kamu juga harus inget siapa cowok manja yang takut sama ulet bulu”
“ih apaan sih Sha gue tuh gak takut gue Cuma geli ajah”
“geli ato geli”
“Apaan sih lu, dasar cerewet”
“yeee, biarin..” keheningan kembali terjadi mereka berdua kembali terdiam sambil bernostalgia mengingat-ingat masa lalu mereka yang indah bersama kedua orangtua mereka yang selalu merayakan weekendnya di tempat dimana mereka kini duduk
“Zhal, kalo dulu mamah sama tante Klara gak ngerayain ulangtahun persahabatan mereka apa kita bakalan bisa ketemu dan bisa bersahabat seperti sekarang ini yah? Apa kita bisa kenal dan seakrab ini yah?”
“kayaknya sih udah takdir gue ketemu sama orang yang bawel kayak loh deh Sha”
“iih apaan sih, tapi seneng kan bisa kenal sama aku?”
Izhal tak menjawab pertanyaan Raisa dia hanya menyunggingkan senyum manisnya, dalam hati dia membatin ‘gue bersyukur banget punya sahabat kayak lo Sha, gue seneng banget kita bisa kenal dan sedekat ini’ dia tak mengungkapkan kata-kata indah itu kepada Raisha dia takut kalau nantinya perkataanya itu menibulkan kontroversi oleh Raisha, dia memang menyimpan simpati dan perasaan sayang yang lebih terhadap Raisha dan dia tak ingin mengungkapkannya karena Izhal tak ingin sahabatnya beraggapan kalau dia telah mengkhianati persahabatan mereka.

Setiap hari mereka lalui bersama-sama melakukan segalanya berdua bahkan teman sekolah mereka pun banyak yang mengira kalau mereka berdua itu berpacaran. Tapi mereka berdua tetap fun dan menikmatinya.

Jam telah menunjukkan pukul 01-45 siang dan itu adalah waktu jam pulang untuk sekolah mereka, karena beda kelas dengan Raisa Izhal pun mencari Raisa seperti biasa untuk diajak pulang bersama. Sudah cukup lama Ia berdiri di gerbang sekolah itu namun Raisa pun tak kunjung kelihatan. Izhal kemudian melihat Arnold teman sekelas Raisah.
“Eh Arnold, liat Raisha gak?” tanyanya kepada Arnold
“dia ada di kelas tuh ada bimbel Bahasa inggris hari ini, gue lagi males masuk jadi gua pulang duluan”
“Oh iya thank’s bro” kemudian Izhal berlalu meninggalka Arnold menuju koridor depan kelas Raisha untuk menungguinya sampai bimbel selesai.
Setelah hampir dua jam menunggu akhirnya yang ditunggu-tumggu pun keluar. Kemudian Raisha melihat Izhal hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang selalu setia menungguinya jika ada bimbel seperti ini.
“Eh, Sa cowok lu tuh udah nungguin dari tadi” kata Ivi salah satu teman dekat Raisha di kelasnya “gue duluan yah Sa” sambungnya. Raisha hanya tersenyum mendengar perkataan teman dekatnya itu tak heran memang jika semu orang di sekolahnya menganggap mereka berdua pacaran dan mereka pun sudah tak risih mendengar kata “Pacar lo tuh” itu sudah dianggap biasa.
“Eh bawel cepetan, udah ditungguin juga pake jalannya lambat lagi” mendengar perkataan Izhal, dia hanya cengengesan sendiri dia memang sangat suka jika melihat Izhal marah-marah seperti itu terhadapnya
“makasih yah udah nungguin” katanya dengan tenang dan senyum lalu kemudian menarik tangan cowok itu. Dalam perjalan perjalanan pulang tiba-tiba saja langit mendung dan saat tiba di rumah Raisha hujan lebat pun turun sehingga tak memungkinkan Izhal pulang berhubung dia hanya menggunakan sepeda motor dan Raisha juga takkan membiarkan Izhal pulang dalam kedaan seperti ini, akhirnya Izhal pun memutuskan menunggui hujan reda baru dia akan pulang.
“Rumah kok sepi sih Sha?”
“Iya mamah papah lagi keluar kota ngurus proyek baru papah”
“bibi mana?”
“Paling lagi ke supermarket, mau minum apa?”
“gak usah repot-repot deh”
Izhal kini tak bisa lagi memendam perasaannya, dan dia memutuskan untuk memberitahu sahabatnya tentang hal yang ia rasakan saat ini
“Sha gue mau ngomong sama loh”
“nah dari tadi kan juga ngomong Zhal”
“Enggak tapi ini tuh beda, masalah ini penting banget, tapi janji loh jangan marah yah”
“ngomong aja kali zhal, tentang apaan sih? Lo naksir sama cewek?”
“Iya gue naksir sama cewek, dan cewek itu spesial banget gue bingung harus ngapain”
“yah tembak lah, gitu aja kok repot” dalam hati Raisha merasa berat mengeluarkan kata-katanya tadi, ia seakan tak rela kalau nanti Izhal memiliki pendamping dan tak memperdulikannya lagi
“Tapi sha..”
“tapi apa? Lo gak berani ngomong? Perlu gue bantu?”
“enggak sha bukannya gitu, gue sebenarnya itu suka.. suka sama ello, udah lama banget gue sadar kalo gue tuh sayang sama loh gak Cuma sebatas sahabat melainkan lebih dari itu”
Mendengar perkataan Izhal dia hanya bisa diam dan terpaku antara percaya dan tidak, ia tak tau harus berkata apa, ia juga bingung karena saat mendengar perkataan Izhal ia malah merasa sangat bahagia
“Sha lo jangan marah yah? Maaf gue lancang ngomong gini ke ello tapi gue bener-bener sayang sama loh, seandainya lo nolak gue, please hubungan kita tetep kayak gini yah, kita tetep sahabatan yah? Karena gue gak tau apa jadinya kalo gue hidup tanpa lo”
Raisha masih dalam diamnya dia masih benar-benar bingung dan seakan tak percaya tentang apa yang baru saja ia dengar, hampir setengah jam mereka diam dalam kesunyian, setelah lelah berdiam seperti ini Raisa akhirnya memeluk Izhal dengan erat dan seakan tak ingin melepaskannya, masih dengan diamnya Izhal pun membalas pelukan Raisha.
“Zhal.. aku juga sayang sama kamu”
Kemudian Izhal melepaskan dirinya dari pelukan Raisha dan menatap lekat mata gadis yang ada di depannya dan berkata
“yang bener sa? Jadi skarang kita pacaran?”
Raisha hanya mengangguk pelan dan kemudia memberikan senyum manisnya kepada sahabat sekaligus pacarnya.

Setelah hari itu, hari-hari mereka menjadi lebih indah. Banyak hal yang telah mereka lalui berdua, dan semua adalah kenangan manis yang tak pernah mereka berdua lupakan hingga akhir hayatnya. Saling menjaga satu sama lain, saling memberi kasih sayang layaknya pasangan kekasih yang lain. Izhal dan Raisha sangat merasa bahagia dan beruntung karena bisa saling memiliki. Hingga pada suatu hari kenyataan pahit yang harus mereka terimah, mereka harus menjalin hubungan jarak jauh karena Raisha dan keluarganya harus pindah ke pulau lain karena ayahnya mendapatkan proyek baru disana, hari-hari yang dulunya indah kini seakan terhapus oleh kenyataan tersebut. Kini mereka berdua telah terpisahkan jarak, mereka kini berhubungan hanya menggunakan media internet dan telpon saja, awalnya semua berjalan seperti biasa dan baik-baik saja sampai suatu hari Raisha mulai merasakan ada yang berubah dari Izhal kekasihnya. Kini Izhal jarang memberi kabar, perhatiannyapu kurang, setiap kali ditanya oleh Raisa jawabanya hanya “maaf sayang aku lagi sibuk ngerjain tugas, soalnya akhir-akhir ini banyak banget tugas dari sekolah” dia bosan mendengar jawaban pacarnya itu-itu saja saat ditanya, di tengah kejenuhannya dia akhirnya memutuskan untuk membuka akun Fesbuknya sebagai hiburan “sudah lama aku gak membuka fesbukku, kangen juga rasanya” batinnya berbicara, namun miris bukan hiburan yang ia dapat saat menjelajahi dunia maya namun hanya sebuah luka yang mendalam saat melihat foto teman dekatnya yaitu Ivhy di sekolah lamanya itu mengupload sebuah foto yang menggambarkan kemesraannya dengan Izhal yang tak lain adalah kekasihnya, namun dia masih mencoba tenang dan tetap berfikiran positif, dia pun mengambil handphonenya dan mulai mengirim sms kepada Ivhy meminta penjelasannya tentang foto yang baru saja ia upload..
“Ivhi”
Sekitar 10 menit kemudian Ivhy baru menjawab pesannya
“Ia sa? Ada apa? Oh ia gimana kabar kamu sekarang”
“aku baik-baik aja, Vi ada hal penting yang mau aku tanyain ke kamu.. tapi aku mohon kamu jawab jujur yah vi?
“iaia, mau tanya tentang apa sih?”
“gini loh Vi, kamu ada hubungan apa dengan Izhal?”
“hm:D, giniloh sa, aku baru jadian sama sahabat kamu.. emangnya Izhal gak pernah ngomong sama kamu?”
Setelah membaca pesan dari Ivhy, Raisha hanya duduk termenung dan tanpa ia sadari air matanya mulai menetes tak terhenti, dia sangat kecewa akan sikap Izhal, Izhal mengingkari semua janjinya terhadapnya.

Setelah merasa sedikit tenang dan dengan air mata yang masih bercucuran, akhirnya Raisha memutuskan untuk meminta penjelasan kepada Izhal dia mulai mengirinya pesan
“Zhal.. mana janji kamu? Kenapa kamu ngekhianatin hubungan kita? Apa ada yang salah dari aku? Zhal.. dulu kamu bilang hanya maut yang dapat memisahkan kita, tapi apa buktinya kamu Cuma mainin aku, kamu tega yah zhal. Aku kecewa sama kamu”
“Maksud kamu apa sih Sa? Aku sayang kamu dan akan selalu sayang kamu”
“aku Cuma bisa ngedoain semoga kamu langgeng sama Ivhi, jaga dia Zhal, dia cewek yang baik kamu jangan sampe nyia-nyiain dia, kayak kamu nyia-nyiain aku”
Setelah membaca pesan Raisha Izhal sangat merasa bersalah dia kemudian mencoba untuk menelpon Raisha, hingga berulang kali Raisha tak kunjung menerima telpon darinya, Izhal mulai bingung dan khawatir, hingga telponnya yang terakhir akhirnya Raisha mengangkat telponnya, dengan suara tangis tersedu-sedu Raisha dengan tetap ketenangannya
“ha.. halo Zhal?”
“Sa aku mohon jangan putusin aku, aku sayang kamu. Hubungan aku dengan Ivhi itu Cuma sebuah kesalahan sa, plis maafin aku, kasih aku kesempatan kedua sa”
“udahlah Zhal, cukup sampai disini ajah, aku gak papa kok, asal kamu bahagia, aku sayang kamu Zhal” setelah mengucapkan kalimat itu Raisha kemudian mematikan telpon dari Izhal dan tanpa ia sadari ia membanting hpnya ke lantai, ia tak kuasa menahan tangisnya.
Kini hari-harinya akan berjalan tanpa ada kehadiran sosok Izhal lagi di sampingnya, ia mulai membuka lembaran baru dan mulai melupakan Izhal secara perlahan karena tak mudah baginya setelah melewati hari-hari bersama Izhal kurang lebih 16 tahun lamanya, dia hanya berdoa semoga kejadian ini takkan pernah terulang lagi di hidupnya.
Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar