Minggu, 17 November 2013

Array Pada Cobol

1. Apa yang kalian ketahui tentang array pada COBOL ?

Jawab :
Array (larik) merupakan tipe data tersetruktur dimana didalamnya terdiri dari komponen – komponen yang mempunyai tipe data yang sama. Didalam suatu array jumlah komponen banyaknya adalah tetap. Didalam suatu larik atau array setiap kompoenen ditunjukan oleh suatu index yang unik. Index dari setiap komponen array menunjukan urutan data atau identitas yang mewakili data yang ada didalamnya.



2. Sebutkan Bentuk Umum Array pada COBOL?

Jawab :
Dalam Bahasa COBOL dapat di tulis sebagai berikut :
01 TABEL-TEMP
02 TEMP OCCURS 24 TIMES PIC 99




3. Berikan Contoh Pemrograman Array Pada Cobol :

Jawab :

IDENTIFICATION DIVISION.
       PROGRAM-ID. TABEL1.
       ENVIRONMENT DIVISION.
       DATA DIVISION.
       WORKING-STORAGE SECTION.
       77 U PIC 99.
       77 GARIS PIC X(65) VALUE ALL '-'.
       01 TABEL1.
          02 TGL OCCURS 10 TIMES PIC 99.
          02 NOKIA OCCURS 10 TIMES PIC 99.
          02 ERIC OCCURS 10 TIMES PIC 99.
          02 SAMSUNG OCCURS 10 TIMES PIC 99.
          02 NEXI OCCURS 10 TIMES PIC 99.
          02 TOTAL OCCURS 10 TIMES PIC 99.
       01 judul-1 PIC X(20) VALUE ' Tabel Penjualan'.
       01 judul-2.
          02 FILLER PIC X(2) VALUE '| '.
          02 FILL PIC X(7) VALUE 'TANGGAL'.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 FILL PIC X(7) VALUE ' NOKIA'.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '|'.
          02 FILL PIC X(9) VALUE ' ERICSON'.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '|'.
          02 FILL PIC X(9) VALUE ' SAMSUNG'.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '|'.
          02 FILL PIC X(9) VALUE ' NEXIAN'.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '|'.
          02 FILL PIC X(9) VALUE ' TOTAL'.
          02 FILL PIC X(1) VALUE '|'.
       01 isi-tabel.
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 TANGGAL PIC X(7).
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 NOK PIC X(7).
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 ERI PIC X(9).
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 SAM PIC X(9).
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 NEX PIC X(9).
          02 FILL PIC X(2) VALUE '| '.
          02 TOT PIC Z(9).
          02 FILL PIC X(1) VALUE '|'.
       SCREEN SECTION.
       01 HAPUS.
          02 BLANK SCREEN.
       PROCEDURE DIVISION.
       PROGRAM-UTAMA.
           PERFORM MASUK VARYING U
           FROM 1 BY 1 UNTIL U > 10.
           PERFORM KPALA.
           PERFORM TAMPIL VARYING U
           FROM 1 BY 1 UNTIL U > 10.
           ACCEPT U.
           STOP RUN.
       MASUK.
           DISPLAY 'DATA KE-',U.
           DISPLAY ( , )' Masukkan tanggal : '.
           ACCEPT TGL(U).
           DISPLAY ( , )' Jumlah hp nokia : '.
           ACCEPT NOKIA(U).
           DISPLAY ( , )' Jumlah ericson :'.
           ACCEPT ERIC(U).
           DISPLAY ( , )' Jumlah hp samsung : '.
           ACCEPT SAMSUNG(U).
           DISPLAY ( , )' Jumlah hp nexian : '.
           ACCEPT NEXI(U).
           COMPUTE TOTAL(U)=NOKIA(U)+ERIC(U)+SAMSUNG(U)+NEXI(U).
           DISPLAY HAPUS.
       TAMPIL.
           MOVE TGL(U) TO TANGGAL.
           MOVE NOKIA(U) TO NOK.
           MOVE ERIC(U) TO ERI.
           MOVE SAMSUNG(U) TO SAM.
           MOVE NEXI(U) TO NEX.
           MOVE TOTAL(U) TO TOT.
           DISPLAY isi-tabel.
           DISPLAY GARIS.
       KPALA.
           DISPLAY judul-1.
           DISPLAY judul-2.
           DISPLAY GARIS.
=============================================================


Berikut Array dengan kondisi pada COBOL


IDENTIFICATION DIVISION.
       PROGRAM-ID. PRINTER1.
       ENVIRONMENT DIVISION.
       DATA DIVISION.
       WORKING-STORAGE SECTION.
       77 KODE PIC X(6).
       77 I PIC 9.
       01 ULANG PIC X.
          88 LAGI VALUE 'Y', 'y'.
          88 TIDAK VALUE 'T', 't'.
       01 KETR.
          02 KODE-PRIN OCCURS 2 TIMES PIC X(6).       
          02 KET OCCURS 2 TIMES PIC X(35).
       SCREEN SECTION.
       01 HAPUS.
          02 BLANK SCREEN.
       01 LAYAR-MASUK.
          02 LINE 4 COLUMN 30 "<< INPUT KODE >>".
          02 LINE 6 COLUMN 15 "KODE : ".
          02 COLUMN PLUS 1 PIC X(6) TO KODE.
       PROCEDURE DIVISION.
       UTAMA.
           MOVE 'LX800 ' TO KODE-PRIN(1).
           MOVE 'EPSON' TO KET(1).
           MOVE 'HP1010' TO KODE-PRIN(2).
           MOVE 'HP LASER' TO KET(2).
           DISPLAY HAPUS.
           PERFORM MASUK.
           PERFORM CARI VARYING I
           FROM 1 BY 1 UNTIL I > 2.
           GO TO TANYA.
           STOP RUN.
       MASUK.
           DISPLAY LAYAR-MASUK.
           ACCEPT LAYAR-MASUK.
       CARI.
           IF KODE-PRIN(I)=KODE
           DISPLAY(8, 15) 'PRINTER YANG ANDA GUNAKAN ADALAH ', KET(I).
       TANYA.
           DISPLAY(10, 15) 'APAKAH ADA KODE LAINNYA: '.
           ACCEPT ULANG.
           IF LAGI GO TO UTAMA.
           STOP RUN.


Jumat, 15 November 2013

Autobiografi



                Nama saya Adi Prasetio, saya lahir di Cirebon pada tanggal 06 Juni 1994, saya anak ke 5 dari ke 5 bersaudara. Orang tua saya bekerja sebagai wiraswasta, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga. Saya mempunyai kakak kandung pertama kak Sri, kedua kak Santi, ketiga kak Akhmadi, keempat kak Sari. Mereka sudah berkeluarga dan masing-masing sudah  mempunyai anak. Bisa disebut saya sudah menjadi seorang paman, bahkan keponakan saya ada yang umurnya beda setahun dengan saya. Yaitu yuni, dia anak pertama dari kakak pertama. Ya sewajarnya saja, dulu saya sebenarnya punya kakak lagi yang ke 5, namun waktu itu ibu saya keguguran. Maka dari itu saya beda jauh dari kakak-kakak saya.
                Sebenarnya saya lahir di cipondoh Tangerang. Pada saat saya masih kecil dan belum sempat membuat akte kelahiran untuk saya, rumah keluarga saya di gusur oleh pemerintah setempat. Memang, waktu itu orang tua saya berprofesi sebagai tukang pot bunga keliling, keluarga saya tak punya apa-apa bahkan tempat tinggal pun di tanah pengairan, makanya digusur.  Keluarga saya pun berpindah tempat tinggal ke kampung halaman dan tinggal bersama kakak pertama. Waktu saya memasuki di bangku SD tanpa memasuki TK, orang tua saya mulai merantau lagi ke bekasi, untuk bekerja walaupun hanya sebuah toko sembako dan kalo pagi, ibu dagang baju dipasar.
Pada kelas 2 menengah, saya mulai jenuh karena saya sangat kesepian ditinggal merantau orang tua, saya selalu malas bersekolah pada saat itu. Namun tak lama kemudian saya pun dipindahkan kebekasi ikut tinggal bersama orang tua hingga melanjutkan sekolah dasar saya di daerah Margahayu Bekasi timur.
Lagi-lagi orang tua saya tinggal di tanah pengairan di sekitar lahan kosong sepanjang jalan kalimalang bekasi timur. Ternyata orang tua saya memang sudah lama menghuni lahan kosong tersebut sejak tahun 80-an, pastinya saya belum lahir. Perlahan-lahan waktu itu ayah mempunyai keinginan membuka usaha musiman, yaitu membuat tihang bendera dan bendera segala ukuran yang dijual untuk 17 agustusan dan penitipan motor karena lahan tersebut lumayan luas.
Saya waktu SD mengikuti kegiatan sosial seperti pramuka, namun hanya sebentar. Karena saat itu saya gemar bermain game Playstation di rental, hingga saya lupa waktu, lupa makan, dan kadang lupa bayar. Bahkan dulu juga pernah saya mengikuti kegiatan mengaji di madrasah AL-JIHAD, gak jauh dari sekolah SD saya. Sesampai iqra 2, saya berhenti dan mulai bermalasan untuk bermain playstation lagi di rental. Orang tua sering menasehati, namun waktu itu saya hanyalah anak kecil yang selalu ingin kesenangan.
Kelas 2, 3, 4, 5 saya naik semua hingga kelas 6 lulus ke SMP. Saya mencoba untuk tes di SMP favorit di bekasi timur yaitu SMPN 2. Ternyata saya tidak lulus tes ke SMP negri sampai akhirnya saya saya memutuskan untuk ke salahsatu SMP Swasta Mandalahayu bekasi timur.
Alhamdulillah, waktu saya duduk di kelas 2 smp usaha ayah berkembang pesat yang dulunya hanyalah seorang penjual bendera dan tihang bambu keliling, sekarang ayah mempunyai banyak anak buah untuk memproduksi bendera dan tihang tersebut hingga pelanggan banyak mencarinya. Penitipan motornya pun mulai banyak pelanggan. Pada saat itu, Ayah dan Ibu di berikan rezeki pergi haji ke tanah suci Makkah.
Kelas 3 smp saya lulus. Saya bingung mau ke SMA/SMK negri mana yang mau dituju. Saya tanpa tes ke negri, saya kembali lagi ke yayasan Mandalahayu untuk melanjutkan pendidikan SMA di sana. Teman baru, kelas baru, rasanya berbeda pada saat SMA. Dari situ saya mulai menyukai lawan jenis atau cinta monyet lah, mempunyai teman dekat atau sahabat (hingga sekarang). Saya orangnya pemalu dan pendiam, jadi suka sama lawan jenis itu hanya sekedar diam dan gak mau mengungkap. Karena saya rasa saya itu belum terlalu mengerti soal begitu.
Saat kelas 1 semester 2 saya ikut serta melakukan kegiatan sekolah atau ekskul pramuka hingga awal kelas 3 SMA. Pada saat kenaikan kelas 2, saya masuk di Grade IPA. Sampai kelas 3 banyak sekali kegiatan-kegiatan pelajaran yang harus deselesaikan, seperti pratktikum. Dan mulai fokus kembali ke Ujian Nasional.
Di kelas 3 SMA, itu mulai terasa banget kenangan yang gak bisa dilupain. Seperti cabut bareng, ngeroko diem-diem bareng, dihukum bareng, ngerjain tugas bareng. pokonya susah seneng bareng.  Oh ya awalnya saya kenal rokok itu dari SMA kelas 3.  Disitulah saya mulai bandel.
UN pun saya jalani dan pada akhirnya saya lulus. Sampai berfikir ikut tes SNMPTN, waktu itu saya coba ptn UNDIP dan UNPAD. Tapi hasilnya pun kecewa karena tidak lulus tes, dan saat itu saya berfikir untuk melanjutkan ke pts di Universitas Gundarma untuk mengambil Fakultas ILKOM Jurusan SI malam.
Pada semester 2 saya kebingungan karena daerah lahan kosong ini dikabarkan akan di eksekusi/gusur. Saya pikir itu hanya issu, tapi ternyata pada bulan April 2013 rumah saya digusur lagi. Dulu sempat digusur, namun hanya sebagian karena untuk pelebaran jalan. Tapi sekarang digusur semua hingga rata dengan tanah. Keluarga saya tak bisa berbuat apa-apa karena tak mempunyai hak. Hanya bisa melihat dengan rasa sedih, dan bersyukur karena sudah sempat hidup enak di sana.
Dan pada akhirnya ayah dan ibu memilih tinggal dikampung halaman cirebon. Saya memilh tinggal dengan kakak Akhmadi yang sudah berkeluarga di tambun-bekasi. Orang tua saya mulai  membuka usaha batu bata. Tapi saya kurang setuju kalau ayah dan ibu masih bekerja, karena faktor usia ayah dan ibu sudah tua. namun apa daya, tak ada cara lagi untuk menafkahi kuliah saya dan keseharian saya.
Saya berfikir tak mau terlalu membebani kakak saya apa lagi ayah dan ibu, saya pun mencoba melamar kerja namun tak ada respon untuk saya hingga kini. “jadi jalani saja apa yang ada, asalkan kuliah jangan sampai ke ganggu” kata orang tua.


               

PROSES ORGANISASI

Proses dalam kamus bahasa Indonesia berarti rangkaian suatu tindakan. Sedangkan proses dalam buku organisasi karangan Gibso Invancevich Donnelly adalah berkenaan dengan aktifitas yang memberi kehidupan pada  skema organisasi  tersebut.  Proses organisasi merupakan  jiwa  bagi  struktur  organisasi. Jika proses tersebut  tidak  berjalan dan berfungsi  dengan  baik,  maka  masalah 
yang tidak pernah diharapkan akan timbul dalam sebuah organisasi.Terdapat empat proses yaitu komunikasi, pengambilan keputusan, evaluasi prestasi, sosialisasi dan karir.
Raymond V. Lesikar telah menguraikan 4 faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikasi organisasi, yaitu :
a.  Saluran omunikasi formal
b.  Struktur organisasi
c.  Spesialisasi jabatan
d.  Apa yang disebut lesikar sebagai “pemilikan informasi”
Model-model dalam proses organisasi
1.  Proses Komunikasi
Komunikasi  menduduki  tempat  yang  utama  karena  susunan keluasan dan cakupan organisasi secara keseluruhan ditentukan oleh tehnik komunikasi. Dari sudut pandang ini komunikasi adalah suatu  proses sosial yang mempuyai relevansi terluas di dalam memfungsikan setiap kelompok, organisasi atau masyarakat.Kelangsungan  hidup organisasi  berkaitan  dengan  kemampuan manajemen untuk menerima, menyampaikan, dan meleksanakan komunikasi. Komunikasi  diartikan  sebagai  proses  penyampaian informasi atau  pengiriman  kepada  penerima  informasi.  Dengan  demikian 
penerimaan  informasi  harus  memahami  isi  informasi  yang  di terimanya,  sebaliknya 
apabila  penerimaan informasi  tidak memahami  informasi  yang  diberikan  oleh  pemberi informasi berarti  tidak  terjadi  komunikasi  yang  effektif  yang  pada  akhirnya dapat menimbulkan  suatu  konflik. Terdapat  tiga  elemen  pokok yang  saling  berkaitan  setiap terjadinya  suatu  komunikasi,  yaitu 
sender (sumber  berita), message (pesan), dan receiver (penerimaan  berita).  Apabila salah satunya dari ketiga elemen tersebut tidak ada, maka komunikasi tersebut tidak akan terjadi. Perilaku Keorganisasian  2 Untuk  itu  terdapat delapan  unsur  pokok  di  dalam  proses komunikasi.
a.  Pengiriman atau sumber (sender)
b.  Enconding
c.  Message
d.  Chanel
e.  Receiver
f.   Recoding
g.  Noise
h.  Feedback
Proses  komunikasi  umum  berisi  lima  elemen:  Komunikator, Pesan, Media, Penerima, dan Umpan balik.
1.  Komunikator
Dalam  suatu  kerangka  organisasi,  komunikator  adalah karyawan dengan ide,maksud, informasi dan suatu tujuan untuk berkomunikasi.
2.  Pesan
Tujuan  komunikator  diekspresikan  dalam  bentuk  pesan  baik verbal atau non verbal. 
Pesan yang tidak disengaja dapat dikirimkan tanpa suara atau tindakan untuk suatu hal tertentu demikian pula keputusan dari tujuan  dan  sasaran  yang  tidak  bisa  diteruskan dan  metode yang tidak bisa dipergunakan.
3.  Media
Media  adalah  pembawa  pesan,  alat  dimana  pesan  dikirim. Dalam  organisasi memberikan  informasi pada  anggota  dalam berbagai  cara,  termaksud  komunikasi tatap muka,  pembicara melalui  telepon,  pertemuan  kelompok,  pesan  melalui  fax  dan lain-lain.
4.  Penerimaan Kode 
Agar  proses  komunikasi  sempurna,  pesan  dapat  dikodekan, sehingga relevan dengan penerimaan.
5.  Umpan Balik
Proses  komunikasi  satu  arah tidak membuka umpan balik penerima terhadap komunikator, meningkatkann  potensi  distori antara pesan yang dimaksud dan pesan yang diterima. Perilaku Keorganisasian 3Komunikasi dalam organisasi sebaiknya  memberikan  komunikasi dalam empat arah berbeda :
a.Komunikasi  ke  bawah  :  komunikasi yang mengalir dari individu dengan  tingkat  hirarki  yang  lebih tinggi  ke  tingkat  yang  lebih rendah.
b.Komunikasi  ke  atas  :  komunikasi  yang  mengalir  dari  tingkat yang  lebih  rendah  ke  tingkat  yang lebih  tinggi  dalam  suatu organisasi.
c.Komunikasi  horizontal  : komunikasi yang mengalir antar fungsi dalam suatu organisasi
d.Komunikasi iagonal komunikasi yang memotong antar fungsi dan tingkat dalam suatu organisasi.Komunikasi  Informal  adalah  bagian  penting  aliran  komunikasi organisasi. Bentuk organisasi ini timbul dengan berbagai maksud, yaitu meliputi :
1.  Peranan kebutuhan-kebutuhan manusiawi
2.  Pemenuhan keinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain
3. Pelayanan sebagai sumber informasi hubungan pekerjaan yang tidak disediakan saluran-salurankomunikasi formal.Bentuk proses perseptual komunikasi
1.  Komunikasi perseptual : Proses dimana penerima menciptakan makna sendiri dalam benak mereka.
2.  Pengirim : Kelompok atau Organisasi yang ingin atau berusaha untuk berkomunikasi dengan penerima tertentu
3.  Pengkodean : Komunikasi dimulai saat pengirim mengkodekan suatu gagasan atau pikiran.
4.  Pesan : Hasil dari pengkodean
5.  Noise  :  Campur  tangan  dalam  pengiriman  dan  pemahaman pesanKomunikasi Antar Pribadi
1.  Kemampuan Komunikasi 
2.  Ekstranet  :  menghubungkan  karyawan  internal  dengan pelanggan pilihan, pemasok dan mitra strategis
3.  E-mail  : penggunaan internet/intranet untuk mengirim teks dan dokumen yang dihasilkan oleh komputer 
Perilaku Keorganisasian  4
4.  Kerjasama komputer : penggunaan perangkat keras dan lunak komputer untuk membantu orang-orang bekerjasama lebih baik sesuai dengan suasana yang ada.
Gaya Komunikasi :
1.  Gaya Asertif : Sikap  yang mampu mengekspresikan perasaan dan  harga  diri,  tetapi  tidak  mengambil  keuntungan  dari  orang lain.
2.  Gaya Agresif : Sikap yang mampu menyatakan diri dan harga diri,  tetapi  mengambil  keuntungan  yang  tidak  adil  dari  oarng lain.
3.  Gaya  Nonasertif  :  Takut,  malu-malu  dan  perilaku  mengingkari diri sendiri.
4.  Komunikasi Non Verbal : Pesan yang dikirimkan kepada orang lain dari tulisan atau dari kata-kata yang diucapkan
5.  Mendengarkan  Secara  Efektif  :  Proses  pengkodean  dan menterjemahkan pesan verbal Tindakan non verbal positif yang dapat membantu komunikasi :
1.  Menjaga kontak mata,
2.  Kadang menganggukkan kepala tanda setuju,
3.  Tersenyum dan menunjukkan semangat,
4.  Mengarahkan tubuh kearah pembicara,
5.  Berbicara secukupnya, tenang, intonasi yang menenangkan
Tindakan untuk dihindari :
1.  Memalingkan muka/tubuh dari pembicara,
2.  Menutup mata Anda,
3.  Menggunakan intonasi suara yang tidak enak didengar,
4.  Berbicara terlalu cepat/lambat,
5.  Menguap berlebihan.
Gaya Pendengaran :
1.  Gaya  Hasil  :  Tertarik  untuk  mendengar  hasil  akhir  atau  hasil suatu pesan,
2.  Gaya  Alasan  :  Tertarik  untuk  mendengar  alasan  dibalik  suatu pesan,
3.  Gaya Proses : Suka mendiskusikan masalah secara detail,
4.  Gaya Linguistik : Ciri khas pola bicara seseorang
Perilaku Keorganisasian  5
Pola Komunikasi Organisasi :
1.  Komunikasi herarkis : pertukaran informasi antara manajer dan karyawan.
2.  Omongan selentingan : sistem komunikasi tidak resmi di dalam organisasi informasi.
3.  Orang  penghubung  :  secara  konsisten  menyampaikan informasi omongan selentingan kepada orang lain.
4.  Mata-mata  organisasi  :  menggunakan  omongan  selentingan untuk meningkatkan kekuatan dan status mereka.
5.  Distorsi komunikasi : dengan sengaja mengubah isi pesan.Dinamika Komunikasi Modern :
1.  Internet  :  jaringan  kerja  global  dari  jaringan-jaringan  kerja komputer
2.  Intranet : internet pribadi milik milik organisasi
3.  Ekstranet  :  menghubungkan  karyawan  internal  dengan pelanggan pilihan, pemasok dan mitra strategis
4.  E-mail : penggunaan internet/intranet untuk mengirim teks dan dokumen yang dihasilkan oleh komputer
5. Kerjasama komputer : penggunaan perangkat keras dan lunak komputer untuk membantu orang-orang bekerjasama lebih baik
2.  Proses Pengambilan KeputusanKeputusan  dari  seorang  pemimpin  tidak  datang secara  tibatiba, tetapi melalui suatu proses. Proses pengambilan keputusan itu berlangsung dengan tahapan sebagai berikut :
a.  Menghimpun data melalui pencatatan bahkan mungkin 
b.  Berupa kegiatan penelitian
c.  Melalui analisis data
d.  Menetapkan keputusan yang akan ditempuh
e.  Mengoperasionalkan keputusan menjadi kegiatan
f.  Selama  berlangsungnya  kegiatan  sebagai  pelaksana 
keputusan akan diperoleh data operasional yang baruSementara itu tahapan-tahapan dalam proses pengambilan keputusan dapat dikemukakan sebagai berikut :
b.  Tetapkan masalah
c.  Identifikasi kriteria keputusan
d.  Alokasikan bobot pada kriteria 
Perilaku Keorganisasian  6
e.  Kembangkan alternatif
f.  Evaluasi alternative
g.  Pilih alternative terbaik
Dalam pengambil keputusan ada dua tipe keputusan:
1.  Keputusan Terprogram
Keputusan  terprogram  adalah  prosedur  spesifik  yang dikembangkan  untuk  masalah  yang  rutin  dan berulang. Jika situasi yang sering muncul, biasanya prosedur rutin akan dapat disusun untuk menyelesaikannya.
2.  Keputusan Tidak Terprogram
Adalah keputusan membutuhkan  manajemen masalah yang unik dan kompleks. Keputusan tidak terprogram ini dibuat jika ada hal yang baru dan tidak berstruktur.Keputusan  adalah  mekanisme organisasional  dengan bentuk usaha untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu. Untuk masalah yang munculnya sering, mengetahui seluruh proses tidak menjadi hal utama. Jika suatu kebijakan telah diputuskan untuk mengatasi masalah seperti  itu  maka  menajer  tidak  perlu  lagi  untuk mengmbangkan  dan  mengevaluasi  seluruh  altrernatif setiap masalah  yang  sama  muncul  kembali.  Dapat  dilakukan  sebagai berikut: 
1.  Menetapkan sasaran dan tujuan serta mengukur hasil
2.  Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dengan tepat dapat terhalangi oleh faktorfaktor seperti berikut:
a.  Masalah  presepsi:  bahwa  presepsi  individu  mempunyai peluang  untuk  melindungi  atau  menghalangi  kita  dari kenyataan yang tidak menyenangkan.
b.  Masalah  didefinisikan  sebagai  solusi:  merupakan  suatu upaya untuk langsung lompat pada suatu kesimpulan.
c.  Identifikasi  gejala  sebagai  masalah:  masalah  biasanya terdiri dari tiga type, yaitu kesempatan, krisis, dan rutin.
3.  Mengembangkan AlternatifSebelum suatu keputusan dibuat, alternative yang masuk-akal 
(solusi  potensial  untuk  masalah  tersebut)  mesti  ditelaah  serta akibat dari masing-masing alternative juga mesti dikaji. Perilaku Keorganisasian  7
4.  Mengevaluasi Alternatif
Dalam memilih dari sejumlah alternative, pengambil keputusan harus  dituntun  oleh  sasaran  dan  tujuan yang  telah  ditentukan sebelumnya. Hubungan antara alternative-hasil didasarkan atas tiga kondisi, yaitu:
a.  Kepastian
b.  Ketidakpastian
c.  Resiko
5.  Memilih AlternatifAdalah  untuk  memecahkan  masalah  guna  mencapai  tujuan yang direncanakan sebelumnya. Keputusan bukan suatu hasil, tetapi hanya suatu sarana untuk mencapai tujuan.
6.  Mengimplementasikan Keputusan
Suatu keputusan yang tidak diimpletasikan tidak lebih dari sebuah abstraksi belaka. Tujuan mengimpletasikan keputusan agar mencapai tujuan yang dikehendaki. Implementasikan keputusan melibatkan banyak  orang  sehingga  untuk  menguji keputusan  itu  dapat  dengan  melihat  perilaku  orang  yang dipengaruhi oleh keputusan itu.
7.  Mengendalikan dan Mengevaluasi
Manajemen yang efektif melibatkan  pengukuran  secara periodik terhadap hasil. Model-model Pengambilan Keputusan.
1.  Relationalitas Keputusan
2.  Model-model perilaku pengambilan keputusan
Teknik Pengambilan Keputusan
1.  Teknik -teknik kreatif : Brainstorming dan Synectics
2.  Teknik -teknik partisipatif
3.  Teknik  -teknik pengambilan keputusan Modern :  teknik  delphi, teknik kelompok nominal
3.  Proses Evaluasi Prestasi
Proses  evaluasi  prestasi  di  dalam  organisasi  menunjukkan bahwa  prestasi  individu, kelompok,  dan organisasi  adalah  suatu hasil atau variabel bergantung dari prilaku organisasi, struktur dan proses. Sistem yang diterapkan untuk  mengevaluasi  prestasi membantu  maksud-maksud seperti penentuan  imbalan  (upah, promosi,  dan  alih tugas), identifikasi  kebutuhan  akan  pelatihan Perilaku Keorganisasian 8(training), penyediaan balikan  bagi  para pegawai  dan  lain-lain. Dalam melakukan pengevaluasian sebaiknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.  Maksud dan evaluasi kerja
b.  Evaluasi kerja dan evaluasi
c.  Apa yang akan di evaluasi
d.  Siapa yang seharusnya akan di evaluasi
e.  Bagaimaa metodenya
f.   Masalah potensial
g.  Bagaimana mengatasi masalah
4.  Proses Sosialisasi dan Karir
Proses sosialisasi  adalah  suatu  proses  dimana  kita dapat bergaul dalam suatu komunitas tertentu maka  disitulah proses sosialisasi akan terjadi. Sedangkan  karir  adalah suatu deretan posisi yang di duduki oleh seseorang selama perjalanan usianya.Karir adalah rangkaian perasaan individual dari sikap dan perilaku yang  berkaitan  dengan  pengamalan kerja  dan  aktifitas  selama rentang waktu kehidupan orang.
SUMBER:
http://meistyjulian.wordpress.com/2012/04/01/proses-organisasi-i-proses-mempengaruhi-pengambilan-keputusan-2/
http://abdulghanni.blogspot.com/2012/01/proses-organisasi-proses-mempengaruhi.html

Kamis, 31 Oktober 2013

Konflik Organisasi

Konflik organisasi

berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Definisi konflik
Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.
1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins, 1993).
7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).
9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).
10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381)
Konflik Menurut Robbin
Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
1. Pandangan tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di antara orang – orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan.
2. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Oleh karena itu, konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
3. Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis – diri, dan kreatif.
Konflik Menurut Stoner dan Freeman
Stoner dan Freeman(1989:392) membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan tradisional (Old view) dan pandangan modern (Current View):
1. Pandangan tradisional. Pandangan tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Hal ini disebabkan konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konflik harus dihilangkan. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak manajemen bertugas meminimalisasikan konflik.
2. Pandangan modern. Konflik tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan banyak faktor, antara lain struktur organisasi, perbedaan tujuan, persepsi, nilai – nilai, dan sebagainya. Konflik dapat mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. Jika terjadi konflik, manajer sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konflik sehingga tercipta kinerja yang optimal untuk mencapai tujuan bersama.
Konflik Menurut Myers
Selain pandangan menurut Robbin dan Stoner dan Freeman, konflik dipahami berdasarkan dua sudut pandang, yaitu: tradisional dan kontemporer (Myers, 1993:234)
1. Dalam pandangan tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Pandangan ini sangat menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. Bahkan seringkali konflik dikaitkan dengan kemarahan, agresivitas, dan pertentangan baik secara fisik maupun dengan kata-kata kasar. Apabila telah terjadi konflik, pasti akan menimbulkan sikap emosi dari tiap orang di kelompok atau organisasi itu sehingga akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, menurut pandangan tradisional, konflik haruslah dihindari.
2. Pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. Namun, yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik, tapi bagaimana menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak tujuan organisasi. Konflik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di dalam organisasi. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif, melainkan harus dijadikan suatu hal konstruktif untuk membangun organisasi tersebut, misalnnya bagaimana cara peningkatan kinerja organisasi.
Konflik Menurut Peneliti Lainnya
1. Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Menurut Myers, Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna, maka dalam proses itu, pasti ada konflik (1982: 234). Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka, gerak badan, yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan, 1993:341). Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru, tetapi juga diidentifikasikan sebagai ‘perang dingin’ antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah.
2. Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk, tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart & Logan, 1993:342). Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen suatu kelompok atau organisasi. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk, tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah di balik adanya perseteruan pihak – pihak yang terkait. Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama apabila sewaktu – waktu terjadi kembali.
Teori-teori konflik
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Pertama adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme, kedua adalah teori konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan ketiga adalah teori konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.
Faktor penyebab konflik
• Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
• Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
• Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
• Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Jenis-jenis konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
• konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
• konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
• konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
• konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
• konflik antar atau tidak antar agama
• konflik antar politik.
Akibat konflik
Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
• meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
• keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
• perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
• kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
• dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk “memenangkan” konflik.
• Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan “kemenangan” konflik bagi pihak tersebut.
• Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.
Contoh konflik
• Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
• Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina.
• Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya.
• Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo), konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan.
Pemicu konflik
Hanya ada dua posisi seseorang dalam sebuah organisasi, yakni dipimpin dan memimpin. Baik organisasi berskala mikro (contohnya Yayasan, LSM, Industri Kecil dan Menengah, dan organisasi kampus) maupun organisasi berskala makro (contohnya perusahaan-perusahaan besar misalnya Astra, IBM, Wall-mart), tidak bisa terlepas begitu saja dengan pola sistematik yang ada di organisasi. Begitu juga halnya dalam Islam. Seorang ulama adalah pemimpin muslim lainnya dalam koridor Islam sebagai organisasinya. Organisasi adalah sebuah sistem yang berfungsi sebagai wadah interaksi antar manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang pemimpin merupakan tonggak ujung yang akan mengarahkan agar tujuan organisasi tercapai. Pemimpin mempunyai power yang tidak dimiliki oleh orang yang dipimpin. Power tidak dapat tumbuh begitu saja. Power merupakan kekuatan untuk mengelola dan mengatur organisasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam memimpin adalah sebuah kemampuan alami secara genetik, yang tidak bisa diajarkan. Akan tetapi tidak semua orang berpandangan sama. Kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin dapat dipelajari baik di lingkungan pendidikan maupun terjun langsung di lapangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemimpin memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Sebagai contoh, dalam kasus pemilu negara kita tahun 2009, banyak partai baru bermunculan. Image orang terhadap partai baru, salah satunya tercermin dari siapa pemimpinnya. Orang awam akan langsung bertanya, ”Siapa sih pemimpin partainya?”. Karena dari situlah dapat ditebak seperti apa gambaran organisasi tersebut. Segala atribut yang menempel di pemimpin, seperti umur, jabatan dan bahkan suku bangsa dapat digeneralisir menjadi atribut organisasi yang dipimpinnya. Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada hal yang lebih pokok dari atribut-atribut tersebut. Karena pada hakekatnya, secara tidak langsung seorang pemimpin organisasi akan membawa visi pribadinya menjadi bagian dari visi organisasi. Alangkah naifnya jika ternyata seorang pemimpin baru yang ditunjuk, mempunyai visi pribadi yang kurang sinergi dengan visi organisasi dan secara perlahan-lahan mengotori visi organisasi. Hal ini bukan hal yang baru di dalam sebuah organisasi. Sudah banyak contohnya di kehidupan politik bangsa ini. Konflik internal di beberapa partai politik merupakan dampak dari permasalahan itu. Kepemimpinan dalam sebuah organisasi sangat erat kaitannya dengan visi organisasi. Seorang pemimpin akan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai visi organisasi. Akan tetapi ada hal lain yang bisa digunakan dalam menjalankan kepemimpinan, yakni pengalaman. Pemimpin besar bagi umat muslim yang patut dijadikan panutan dalam semua aspek kehidupan adalah Baginda Rasulullah SAW.
Proses seseorang dalam menjalankan kepemimpinanya di organisasi tidak akan berjalan dengan linier. Rumus matematik saja sejatinya belum cukup untuk memodelkan pola kepemimpinan dan daur hidup organisasi. Banyak permasalahan-permasalahan internal yang oleh sebagian besar organisasi tidak dapat diungkapkan sebagai permasalahan organisasi. Beberapa ahli organisasi dan konsultan menyebutnya sebagai organisasi yang sakit. Keengganan pemimpin untuk mengakui dan mengungkap permasalahan internal organisasi bisa menjadi efek bola salju. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa semua organisasi mempunyai permasalahan internal. Dan proses penyelesaiaan secara benar bukan satu-satunya indikator berhasil tidaknya organisasi dalam mencapai visi dan tujuannya. Yang lebih utama adalah hasil atau output. Indikator tersebut merupakan indikator yang paling valid dari indikator-indikator lain untuk mengukur tercapainya visi dan tujuan organisasi. Misalnya ketika terjadi permasalahan internal di sebuah lembaga pendidikan. Solusi-solusi akan datang silih berganti dan tumpang-tindih untuk mencoba menengahi dan menyelesaikannya. Namun, yang perlu diperhatikan justru sejauh mana hasil atau output lembaga pendidikan tersebut dalam hal kualitas. Karena bisa saja yang terjadi dengan adanya permasalahan internal atau konflik itu, dapat menjadikan pelajaran yang berharga bagi pengelola lembaga pendidikan dan memicu produktivitas. Hal ini sesuai dengan penjelasan di atas bahwa siklus organisasi sejatinya tidak ada yang linier, akan tetapi penuh dengan kondisi probabilistik.
Konflik organisasi secara umum ada dua macam. Pertama konflik eksternal, yakni bekaitan dengan hubungan organisasi dan lingkunganya. Kedua adalah konflik internal, yakni permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam organisasi. Beberapa ahli organisasi berpendapat bahwa konflik internal meliputi konflik yang terjadi di dalam diri individu, konflik antar individu yang dipimpin, konflik antara individu yang dipimpin dan organisasi, konflik antara pemimpin dan yang dipimpin, serta konflik antara pemimpin dengan organisasi (Winardi, 2007). Porsi terbesar yang dapat memicu potensi rapuhnya organisasi adalah konflik yang melibatkan pimpinan di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang lumrah mengingat pemimpin adalah tonggak ujung organisasi. Pemimpin yang mempunyai tanggung jawab menjaga keluwesan organisasi dalam menghadapi konflik. Pandangan ahli organisasi pada zaman dulu menganggap bahwa konflik adalah ancaman yang mengandung resiko. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, manajemen konflik menjadi wacana baru. Salah satu contoh riil berkaitan dengan konflik internal adalah konflik antar golongan yang menimpa umat muslim akhir-akhir ini. Terlepas dari semua perbedaan pendapat dan perdebatan dalam menghadapi masalah itu, seolah-olah justru visi islam yang diturunkan Allah SWT sebagai Rahmatallil’alamin terbiaskan. Sehingga alangkah baiknya jika merujuk kembali ke Al Qur’an surat Asy Syura ayat 38 yang menyebutkan bahwa permasalahan antar manusia diselesaikan dengan permusyawaratan. Meski tidak semua hal dapat diselesaikan dengan cara musyarwarah. Allah SWT juga berfirman untuk mendamaikan semua pihak yang bertikai jika terjadi konflik (Al Hujurat ayat 9). Langkah serupa juga selayaknya diterapkan di semua organisasi agar jalan tengah konflik dapat dicapai.
Konflik merupakan dampak dari kepentingan, baik kepentingan individu yang dipimpin maupun pemimpin. Disadari atau tidak, ketika bergabung dalam sebuah organisasi, setiap individu mempunyai kepentingan tertentu yang ingin dicapai pada saat bergabung dengan organisasi. Disamping bahwa ada kepentingan organisasi, yakni visi, yang harus sejalan dan selaras dengan pemikiran individu yang bergabung dengan organisasi. Kepentingan merupakan salah satu faktor dominan yang menjadi akar pemicu konflik. Misalnya dalam sebuah organisasi kampus, setiap individu yang bergabung mempunyai angan-angan tertentu yang ingin diraihnya. Dan ketika angan-angan dan harapan tersebut perlahan-lahan hilang, maka individu yang bersangkutan akan surut semangatnya di organisasi itu. Konflik juga bersinggungan dengan peran. Peran yang dijalani setiap individu (baik pemimpin maupun yang dipimpin) bisa saja bertentangan dengan keinginan pribadi yang bersangkutan.
Seperti halnya manusia hidup di dunia juga mempunyai kepentingan. Setiap muslim wajib mencari kebahagian di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim yang hanya mengejar dunia, maka belum tentu kehidupan akhirat akan bahagia. Namun, jika mengejar akhirat sebagai tujuan akhir, maka insya Allah, kehidupan dunia akan tercukupi. Jika dianalogikan dalam kehidupan berorganisasi, kepentingan individu di dalam organisasi diumpamakan sebagai kepentingan mengejar kehidupan dunia. Sedangkan kepentingan memperoleh kehidupan akhirat yang baik, diibaratkan seperti pencapaian visi organisasi. Apabila kepentingan untuk meraih pencapaian visi organisasi diutamakan dan tetap dijunjung tinggi, maka kepentingan individu juga akan ikut terlaksana. Manusia sebagai entitas individu memang tidak bisa lepas dari atribut-atribut yang menempel di setiap individu. Manusia mempunyai cipta, rasa dan karsa dalam menjalankan berbagai aktivitas apapun. Demikian juga ketika manusia berinteraksi dalam sebuah organisasi. Kepentingan-kepentingan individu tidak bisa dipungkiri akan terbawa pada saat setiap individu berinteraksi. Emosi dan hati manusia ketika berinteraksi dalam sebuah organisasi akan selalu menghiasi. Namun perlu disadari juga bahwa hati manusia mudah berubah, sebagaimana Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Sehingga alangkah indahnya jika setiap individu bisa menata hatinya dengan memanaje qalbunya, sebagaimana Aa’Gym sering mengulas dalam setiap wejangannya. Karena pada hakekatnya interaksi manusia dalam organisasi tidak akan pernah bisa lepas dari hakekat manusia yang mempunyai emosi dan hati.
Pengertian
Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah
suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua
pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik
pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh
adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada
keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu
perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.
Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena konflik
bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik.
Persaingan sangat erat hubungannya denga konflik karena dalam persaingan
beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin
mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik namun mudah menjurus ke
aarah konflik, terutuma bila ada persaingan yang menggunakan cara-cara yang
bertentengan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan bukanlah konflik karena
orang yang terlibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa permusuhan. Sebaliknya
orang yang saling bermusuhan bisa saja tidak berada dalam keadaan konflik.
Konflik sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya.
Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi)
dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun bagi organisasi.
Jenis-jenis Konflik
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu
konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok,
konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.
Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflikseseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi
bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin
dipenuhi sekaligus.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal
sebagai berikut:
1. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
2. Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan
kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.
3. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan dan
tujuan.
4. Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi tujuantujuan
yang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap lingkungannya acapkali
menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka akan menimbulkan keadaan yang
tidak menyenangkan.
Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :
1. Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua
pilihan yang sama-sama menarik.
2. Konflik pendekatan – penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua
pilihan yang sama menyulitkan.
3. Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada
satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.
Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena
pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang
yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam
perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan
dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses
pencapaian tujuan organisasi tersebut.
Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan
untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja
mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat dihukum oleh
kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas
kelompok dimana ia berada.
Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi.
Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakan
dua macam bidang konflik antar kelompok.
Konflik antara organisasi
Contoh seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain
dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan
persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan
timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga
lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Peranan Konflik
Ada berbagai pandangan mengenai konflik dalam organisasi. Pandangan tradisional
mengatakan bahwa konflik hanyalah merupakan gejala abnormal yang mempunyai
akibat-akibat negatif sehingga perlu dilenyapkan. Pendapat tradisional ini dapat
diuraikan sebagai berikut :
- Konflik hanya merugikan organisasi, karena itu harus dihindarkan dan ditiadakan.
- Konflik ditimbulka karena perbedaan kepribadian dan karena kegagalan dalam
kepemimpinan.
- Konflik diselesaikan melalui pemisahan fisik atau dengan intervensi manajemen
tingkat yang lebih tinggi.
Sedangkan pandangan yang lebih maju menganggap bahwa konflik dapat berakibat
baik maupun buruk. Usaha penanganannya harus berupaya untuk menarik hal-hal
yang baik dan mengurangi hal-hal yang buruk. Pandangan ini dapat diuraikan
sebagai berikut :
- Konflik adalah suatu akibat yang tidak dapat dihindarkan dari interaksi
organisasional dan dapat diatasi dengan mengenali sumber-sumber konflik.
- Konflik pada umumnya adalah hasil dari kemajemukan sistem organisasi
- Konflik diselesaikan dengan cara pengenalan sebab dan pemecahan masalah.
Konflik dapat merupakan kekuatan untuk pengubahan positif di dalam suatu
organisasi.
Dalam padangan modern ini konflik sebenarnya dapat memberikan manfaat yang
banyak bagi organisasi. Sebagai contoh pengembangan konflik yang positif dapat
digunakan sebagai ajang adu pendapat, sehingga organisasi bisa memperoleh
pendapat-pendapat yang sudah tersaring.
Seorang pimpinan suatu organisasi pernah menerapkan apa yang disebutnya dengan
“mitra tinju” Pada saat ada suatu kebijakan yang hendak diterapkannya di organisasi
yang dipimpinnya ia mencoba untuk mencari “mitra yang beroposisi dengannya”.
Kadang konflik pun terjadi. Apakah itu menjadi persoalan bagi dirinya ?
“Bagi saya hal itu menjadi hal yang positif, karena saya dapat melihat
kebijakan yang dibuat tersebut dari sisi lain. Saya dapat mengidentifikasi
kemungkinan kelemahan yang ada dari situ. Selama kita masih bisa
mentolerir dan dapat mengendalikan konflik tersebut ke arah yang baik, hal
itu tidak menjadi masalah”, ujarnya.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang ditulis oleh Robbins (1996) yang membahas
konflik dari segi human relations and interactionist perspective. Dijelaskan bahwa
konflik itu adalah hal yang alamiah dan selalu akan terjadi. Konflik merupakan
bagian dari pengalaman hubungan antar pribadi (interpersonal experience)
Karena itu bisa dihindari maka sebaiknya konflik dikelola dengan efektif, sehingga
dapat bermanfaat dan dapat menciptakan perbedaan serta pembaharuan ke arah
yang lebih baik dalam organisasi.
Kesimpulannya konflik tidak selalu merugikan organisasi selama bisa ditangani
dengan baik sehingga dapat :
- mengarah ke inovasi dan perubahan
- memberi tenaga kepada orang bertindak
- menyumbangkan perlindungan untuk hal-hal dalam organisasi
- merupakan unsur penting dalam analisis sistem organisasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi Konflik
Dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan faktor
ekstern. Dalam faktor intern dapat disebutkan beberapa hal :
1. Kemantapan organisasi
Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah
terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang
matang mempunyai pandangan hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan
nilai dan lain-lain.
2. Sistem nilai
Sistem nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan
maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah
atau benar.
3. Tujuan
Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para
anggotanya.
4. Sistem lain dalam organisasi
Seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan,
sisitem imbalan dan lain-lain. Dlam hal sistem komunikasi misalnya ternyata
persepsi dan penyampaian pesan bukanlah soal yang mudah.
Sedangkan faktor ekstern meliputi :
1. Keterbatasan sumber daya
Kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat
berakhir menjadi konflik.
2. Kekaburan aturan/norma di masyarakat
Hal ini memperbesar peluang perbedaan persepsi dan pola bertindak.
3. Derajat ketergantungan dengan pihak lain
Semakin tergantung satu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi.
4. Pola interaksi dengan pihak lain
Pola yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola
tertutup menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.
Penanganan Konflik
Untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan diri
sendiri dan juga pihak-pihak yang mempunyai konflik. Ada beberapa cara untuk
menangani konflik antara lain :
1. Introspeksi diri
Bagaiman kita biasanya menghadapi konflik ? Gaya pa yang biasanya digunakan?
Apa saja yang menjadi dasar dan persepsi kita. Hal ini penting untuk dilakukan
sehingga kita dapat mengukur kekuatan kita.
2. Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat.
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat. Kita dapat
mengidentifikasi kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan
sikap mereka atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya
konflik. Kesempatan kita untuk sukses dalam menangani konflik semakin besar
jika kita meliha konflik yang terjadi dari semua sudut pandang.
3. Identifikasi sumber konflik
Seperti dituliskan di atas, konflik tidak muncul begitu saja. Sumber konflik
sebaiknya dapat teridentifikasi sehingga sasaran penanganannya lebih terarah
kepada sebab konflik.
4. Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih
yang tepat.
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam
penanganan konflik :
a. Berkompetisi
Tindakan ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri di
atas kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika
situasi saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu
pihak lebih utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan
situasi menang – kalah (win-win solution) akan terjadi disini. Pihak yang
kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang
berkepanjangan. Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan –
bawahan, dimana atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan
organisasi) di atas kepentingan bawahan.
b. Menghindari konflik
Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi
tersebut secara fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah
menunda konflik yang terjadi. Situasi menag kalah terjadi lagi disini.
Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk
mendinginkan suasana, mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang
baik bisa terjadi jika pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali,
ditambah lagi jika salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih
memiliki hutang menyelesaikan persoalan tersebut.
c. Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri
agar pihak lain mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga
sebagai self sacrifying behaviour. Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa
kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin tetap menjaga hubungan
baik dengan pihak tersebut.
Pertimbangan antara kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal
yang utama di sini.
d. Kompromi
indakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal
tersebut sama –sama penting dan hubungan baik menjadi yang uatama.
Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian kepentingannya untuk
mendapatkan situasi menang-menang (win-win solution)
e. Berkolaborasi
Menciptakan situasi menang-menag dengan saling bekerja sama.
Pilihan tindakan ada pada diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing
tindakan. Jika terjadi konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan
antar pribadi menjadai hal yang harus kita pertimbangkan.
kesimpulan
Kemampuan menangani konflik tentang terutama yang menduduki jabatan
pimpinan. Yang terpenting adalah mengembangkan pengetahuan yang cukup dan
sikap yang positif terhadap konflik, karena peran konflik yang tidak selalu negatif
terhadap organisasi.
Dengan pengembalian yang cukup senang, pimpinan dapat cepat mengenal,
mengidentifikasi dan mengukur besarnya konflik serta akibatnya dengan sikap positif
dan kemampuan kepemimpianannya, seorang pimpinan akan dapat mengendalikan
konflik yang akan selalu ada, dan bila mungkin menggunakannya untuk keterbukaan
organisasi dan anggota organisasi yang dipimpinnya. Tentu manfaatnya pun dapat
dirasakan oleh dirinya sendiri.
http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik